Luluh - samsons

Rabu, 13 Juli 2011

Mentari yang Terlupakan

“Hey mom, ikan itu lucu sekali…belikan itu untukku mom…” kata perempuan kecil itu.
Penuh senyum ibu itu menjawab, “Pilihlah mana yg kau suka..”
Setelah beberapa saat perempuan kecil itu melihat kelinci,kelincipun dibelikannya untuknya. Tak lama kemudian ada beberapa burung lucu yg menarik perhatiannya. Lagi-lagi dia menginginkannya dan lag-lagi ibu itu membelikannya untuk putrinya.
Ibu..ibu.ibu..banyak cerita banyak kisah yg tak akan pernah habis untuk disusun dalam sebuah paragraph. Bukan karena putrinya menyukainya,tapi bagi ibu senyum putri mungilnya lebih berharga dibanding dengan segala apapun yg dia punya. Dia akan mengorbankan saat santainya untuk sejenak menemani putra-putrinya bermain. Dia akan mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk sekedar membuatkan sebotol susu untuk belahan hatinya. Sembilan bulan dia lalui dengan susah payah dan dia tak pernah sedikitpun mengeluhkannya. Saat sang bayi hadir diduniapun dia masih harus menahan sakit yg luar biasa yg mungkin saja mempertaruhkan nyawanya. Tapi semua itu baginya akan terbayar hanya karena mendengar  tangisan kelahiran kita. Tangis bayi mungil merupakan senyumnya, disela tangisan dan rasa sakit itu hadirkan kebahagiaan buatnya. Setiap detik setiap menit tiada pernah dia melewatkan setiap senyuman dan setiap tangisan yg hadir dari anaknya. Dia selalu bersabar untuk setiap tingkah laku kita yg melebihi batas. Ketika dia marah dan memukul kita,sesaat kemudian akan timbul rasa sesal yg mendalam. Setiap kemarahannya akan dia balas dengan kasih sayang yg berkali lipat. Ketika kita tumbuh semakin dewasa nasehatnya tak pernah berhenti meski kita sering  mengecewakannya.
Sama dengan perempuan mungil itu dan anak-anak yg lahir didunia ini,aku jg mempunyai seorang ibu. Seorang ibu yg selalu sabar dengan tingkah polahku mulai dari kecil hingga dewasa. Tak pernah sedikitpun hilang rasa kasih sayangnya terhadapku. Sebanyak apapun kesalahanku dia telah memafkannya sebelum aku meminta maaf kepadanya. Berbagai macam sifat dia yg aku kagumi. Dia seorang yg bijaksana,penuh pengertian, humoris, religious, tegas dengan caranya. Dan beliau merupakan seorang dermawan yg mulia hatinya.
“Mas,uang saku buat lebaran mas ma adek dikasihin tar aja ya”
“Emang kenapa bu..??!” nada protes dari adekku.
“Uangnya mo ibu kasih buat tetangga kita,kemarin pas sore mau buka puasa ibu melihatnya memetik pisang yg masih mentah dikebunnya untuk dimasak buat berbuka puasa” ibu menjelaskan.
“Emang enak ya bu klo pisang mentah dimasak??” Tanya adekku polos. Maklum dia baru berusia 6 tahun untuk mengerti keadaan itu.
“Bukan begitu nak, bukan karena enak. Tapi mereka tak punya nasi sedikitpun untuk dimasak apalagi uang untuk membeli lauk. Kasihan dia juga mempunyai anak seusia kamu,padahal besok lebaran” mencoba menjelaskan sedkit demi sedikit.
“Yudah deh kalo gitu” ungkap adeku dengan nada sedikit kecewa karena jatah uang sakunya tertunda.
Penuh senyum aku melihatnya, waktu itu umurku berkisar antara 14 tahun, dan cukup mengerti apa yg dimaksudkan oleh ibu. Padahal semalam aku mendengar ibu bercerita kepada bapak, bertanya besok lebaran tapi ibu sedang tak mempunyai banyak uang untuk merayakannya. Dalam keadaan susahpun beliau masih sempat untuk memikirkan keadaan tetangganya yg mempunyai nasib lebih kurang beruntung disbanding keluargaku. Sifat kedermawanan beliau yg selalu menjadi panutanku. Sedari kecil aku telah diajarkan bagaimana berempati dengan orang disekitar kita. Aku selalu diajarkan bagaimana menjadi seorang yg senang berbagi dengan sesama. Pagi-pagi buta ibu membangunkanku, saat itu kumandang takbir masih membahana dipelosok kampungku. Hawa dingin masih memaksaku untuk memakai jaket tebalku. Dari semalam memang hujan tak berhenti hingga pagi ini. Dikesunyian pagi yg aku fikir masih terlalu dini, aku melihat beberapa bungkusan plastik dimeja dapurku.
“Mas, tolong bungkusan itu ma amplop ini dikasihin ma mbak ti sebelah ya..”
“Apa ini bu??” tanyaku
“Ow..itu ada beras dan bumbu dapur serta beberapa lauk pauk mentah untuk dimasak, biar mereka juga merasakan apa yg kita makan nanti pas lebaran” ungkap beliau sambil tersenyum
Sejuk mata ini memandang wajahnya yg sedang tersenyum. Rasa kagum tak pernah berhenti ketika melihat sifat beliau.  Semakin besar rasa syukurku telah dilahirkan dari rahim seorang ibu yg mulia menurutku. Segera aku antarkan bungkusan itu. Memang benar ternyata diluar masih hujan rintik-rintik. Hawa dingin ini tak mau terusir dari tubuhku. Dengan tergesa aku antarkan bungkusan itu agar tidak basah karena kehujanan.
Tok..tok..tok..tok… “ assalamualaikummm…..” sedikit lama aku menunggu hingga aku harus mengulanginya tiga kali.
“Waalaikumsalam…siapa ya?” terdengar suara samar-samar dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu itu terbuka.
“Ow..km nak..ada apa yak ok pagi-pagi buta udah kesini, orang rumah gak papa kan?? tanyanya
“Maaf bu,orang rumah baik-baik aja kok. Saya kesini hanya sekedar menyampaikan bungkusan ini untuk buk siti. Tadi ibu menyiapkannya…ini juga ada amplop dari ibu” ucapku
“Apa ini mas….??” Sambil membuka bungkusan itu.. sesaat terdiam di kegelapan karena hamper tak ada lampu penerangan didepan rumahnya aku melihat sedikit tetesan air mata dari ujung matanya. Sambil menangis dia berucap…
“Terima kasih mas…..sampaikan buat ibu, akhirnya saya dapat membuatkan nasi dan soto kesukaan anak saya untuk lebaran ini….” Ucap tetanggaku masih dengan tersedu menitikkan air mata.
Sesaat meninggalkan rumah itu dengan berbagai macam pertanyaan di otakku. Ketika sampai dirumah aku beritahukan kepada ibuku.
“Buuuu….bungkusannya sudah mas kasihkan ke mbak ti, dia bilang terimakasih banyak..”
“Alhamdulillah…semoga berkah, makasih ya mas” hanya sedikit itu yg terucap dari mulut ibuku dengan tersenyum dan beliau kembali melanjutkan aktifitasnya memasak pagi itu.
Salah satu sifat beliau yg aku kagumi, selalu membuatku berfikir untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yg telah diberikan oleh Allah SWT. Ketika aku duduk dibangku SD aku termasuk siswa yg rajin dan selalu mendapatkan peringkat  kelas. Masih ingat betul bagaimana aku dengan bangga melaporkannya kepada ibuku untuk setiap nilai-nilaiku. Pernah di satu waktu ketika kuliah aku mendapatkan nilai yg menurutku sangat mengecewakan hingga takut untuk memberitahukannya kepada ibuku. Akhirnya dengan penuh penyesalan aku beritakan padanya. Bukan kemarahan ataupun ancaman yg aku dapatkan tetapi suatu pengertian yg tulus dari seorang ibu.
“Alhamdulillah mas,masih bisa ambil mata kuliah disemester depan………….”
Dan diteruskan dengan pertanyaan dan nasehat-nasehat yg semakin membuatku merasa bersalah. Tapi tIdak dengan semangatku, setiap inchi dari nasehatnya coba aku masukkan dalam-dalam kefikiranku. Kearifannya membuatku untuk tidak menyerah dan terus berusaha membuatnya bangga. Semakin aku dewasa semakin aku mengerti pula kasih sayangnya. Tak pernah terbatas, tak pernah berujung. Setiap apa yg aku berikan kepadanya selalu terlihat besar dimatanya, tapi terlihat kecil dimataku ketika mengingat setiap apa yg telah beliau berikan terhadapku. Kesabarannya selalu teruji dengan kesalahan dan kekuranganku. Tapi tak pernah beliau mengeluhkannya,hanya nasehat yg dia berikan tapi aku selalu lupa akan hal itu dan kuulangi lagi kesalahanku.
Kemarahannya selalu berujung dengan makna kasih sayang yg dalam kepada anak-anaknya. Dikala kita sedang jatuh belau yg berusaha mendinginkannya dan menghibur kita dengan caranya. Dia tak pernah berhenti berdoa untuk kita sampai nanti dating akhir hayatnya. Dia tak akan merasa lega hingga anak-anaknya mendapatkan kebahagiaannya. Baginya senyum anaknya merupakan kepuasan batin untuknya. Dari kita kecil hingga dewasa tak pernah dia harapkan kecuali kabar yg menggembirakan untuk kebahagiaan anak-anaknya. Baginya kita tetap merupakan bayi mungilnya yg dia lahirkan dengan taruhan nyawa. Dia tak akan pernah berhenti khawatir untuk anaknya. Ketika dia makan hidangan lezat akan terasa hambar manakala dia ingat anaknya berada nan jauh disana sedang menuntut ilmu, selalu merasa khawatir apakah mereka juga merasakan makanan yg sama dengannya. Ketika sedang berwisata beliau akan selalu membayangkan alangkah bahagianya jika semua anak-anaknya dapat merasakan kesenangan itu. Tetapi ketika beliau kesusahan dan bersedih hati dengan hati-hati dia berkata agar anak-anaknya tak tahu bahwa beliau sedang bersedih. Agar anak-anaknya tidak merasakan kesedihan itu juga. Dia tak pernah benar-benar rela untuk melihat anak-anaknya bersedih,dia lebih memilih untuk melihat mereka tersenyum bahagia. Dengan hati-hati dia sembunyikan kesedihan itu dengan serangkaian senyuman palsu yg dapat mengalihkan pandangan mata anaknya. Tahukah kawan ketika beliau mengandung kita selama Sembilan bulan. Ketika beraktifitas bisa kita bayangkan betapa susah dan repotnya dia dengan membawa kita di kandungannya ketika hendak kemana-mana. Ketika tidur bisa kita bayangkan seperti apa beliau harus tidur dengan kandungannya yg semakin membesar. Ketika dia memasak bisa kita bayangkan betapa repotnya dia memasak dengan menghawatirkan kandungannya.  Ketika tiba kelahiran dia berjuang sekuat tenaga agar bayinya dapat hidup tanpa menghawatirkan nyawanya sedikitpun. Bahkan hingga dewasapun dia masih khawatir keadaan kita manakala mendengar berita kita jatuh dan sebagainya.
Masihkah kita beranggapan kita telah membalas jasanya????
Masih ingatkah bagaimana kita mempersiapkan hadiah teruntuk kekasih kita? Berbulan-bulan sebelum tgl kelahirannya berbagai rencana telah kita persiapkan untuk membuatnya terkesima terhadap kita. Tapi apa yg sudah kita persiapkan untuk ibu kita??
Masih ingatkah bagaimana kita berusaha meminta maaf dan menghibur kekasih kita yg sedang marah,ngambek,merajuk??berbagai macam cara kita tempuh untuk kembali mendapatkan senyumannya. Tapi apa yg sudah kita lakukan kepada ibu kita ketika beliau bersedih??
Masih ingatkah bagaimana kita menyisihkan uang kita yg mepet dan kita rela untuk berhemat ria hanya untuk membelikan sebuah barang yg disukai kekasih kita? Makan seadanya,menahan lapar.. tapi apa yg sudah kita berikan kepada ibu dengan perjuangan kita??
Masihkah beranggapan kita telah membalas jasanya??


IBUUUU……MAAFKAN ANAKMU INI…
Setiap tetes air matamu sungguh berarti untuk dijatuhkan, tetapi anakmu ini tak pernah menyadarinya.
Setiap senyummu sungguh menyejukkan kalbuku, tetapi anakmu ini selalu terlena dengan ketidakpuasan.
Setiap doamu sungguh yg diperdengarkan NYA untuk kebaikanku,tetapi anakmu ini terlalu sombong akan keberhasilannya.
Setiap nasehatmu bagaikan ayat yg menjadi pedoman hidup, tetapi anakmu ini terlalu bodoh untuk tidak mengamalkannya.
Setiap tetes keringatmu engkau korbankan untuk anak-anakmu, tetapi anakmu ini terlalu naïf untuk mengakuinya.
Setiap inchi kehidupanmu kami sangatlah yakin itu semua untuk kebahagiaan anaknya, tetapi anakmu ini terlalu banyak mengeluh hingga penyesalan yg akan datang manakala kami menemukan pengertian itu ketika dirimu telah dipanggilNYA.
Maafkan anakmu ini dengan ketidaktahuan dan kesombonganku, semoga engkau selalu diberikan kesehatan,umur yg panjang agar kami dapat lebih lama melihat banyak senyuman diwajahmu. Agar kami masih sempat untuk membalas setiap kebaikanmu meski kami tahu itu tak ada artinya dibandingkan dengan samudera kasih sayangmu. Melalui Engkaulah Allah melimpahkan cahayanya untuk kami anak-anakmu. Engkaulah Mentari yg menaklukkan malam dengan hangatnya kasih sayangmu, engkaulah Rembulan yg memberi cahaya ketika Mentari bertekuk lutut dihadapan senja. Engkaulah Cahaya sebenarnya yg Allah titipkan kepadamu.
Tetapi seringkali kami tak menyadarinya, bagai MENTARI YG TERLUPAKAN.
Ibu…ibu…ibu….

0 komentar:

Posting Komentar

walkie talkie

walkie talkie
walkie talkie