Luluh - samsons

Minggu, 24 Oktober 2010

Nasehat untuk diri sendiri

Hari ini mendapat sebuah sms yang isinya segera meluncur ke kantor secepatnya karena ada keperluan yang mendesak. Seperti biasa kerja, kerja, dan kerja..huh!

Tetapi kalo tidak kerja terus nanti makan apa, terus bayar sekolah si bungsu siapa, terus bayar tagihan listrik, Air, dll siapa, terus kalo pengen jalan2 ga punya duit bagaimana?. Untuk bisa penuhin kebutuhan semua itu perlu duit dan cara mendapatkan duit itu ya dengan kerja. Kalo tidak kerja ya tidak dapat duit kecuali ada yang ngasih ( ngarep mode On )..:D. Didalam islam pun kerja dikategorikan sebuah ibadah. Kerja dengan tujuan untuk memenuhin kebutuhan hidup adalah sebuah keharusan, artinya bahwa untuk mendapatkan segala sesuatu itu memerlukan usaha. Untuk mendapatkan duit secara halal lakukan lah usaha yaitu denga bekerja, untuk mendapatkan Pahala lakukan lah kebaikan. Dan untuk mendapatkan sebuah dosa pun memerlukan usaha juga. Loh, kenapa buat dosa aja harus pake usaha?..Contohnya ketika saya ingin berniat mencuri duit Si A otomatis usaha yang saya lakuin adalah bagaimana caranya supaya mencuri duit itu tidak ketahuan orang lain atau si A tersebut. Usahanya bisa dengan berbagai macam ( ya ente pikir ndirilah..hehe ). Intinya tu kan juga usaha malahan usaha buat dosa lebih ribet dari pada usaha bikin pahala.

Tidak ada orang yang bisa sukses hanya dengan berdiam diri tanpa melakukan usaha. Itu yang pernah di ajarkan seorang guru saya waktu Sekolah dulu. Untuk mendapatkan apapun di dunia ini tidak ada yang gratis semuanya memerlukan usaha, semuanya perlu perjuangan, dan diiringi dengan do'a. Saat ini mungkin orang2 banyak yang mengalami stress kerena tingkat kesibukan pekerjaannya yang sangat tinggi hampir setiap saat HP berbunyi tidak ada waktu buat menghibur diri. sebenarnya wajar karena itu sangat manusiawi tetapi semuanya itu bisa di netralisir dengan suatu keadaan, yaitu Ikhlas.

Ikhlas dalam melakukan segala hal lambat laun akan membuat kita enjoy dan menikmati segala macam rutinitas sehari-hari. Tidak mudah memang menanamkan rasa ikhlas ke dalam diri sendiri karena kebanyakan manusia ( termasuk saya ) pada dasarnya adalah suka mengeluh, tidak berpuas diri, dan lupa bersyukur. Salah satu ilmu yang tidak bisa dicari gurunya adalah ilmu ikhlas karena guru untuk ilmu itu ada pada dalam diri sendiri. Jangankan untuk mencapai tahap ikhlas, untuk mencoba tidak mengeluh saja dalam setiap apapun yang terjadi susahnya minta ampun seolah-olah ada saja hati bergelitik untuk protes apabila keadaan tidak seperti yang diharapkan. Sangat mustahil rasanya bisa menerima saja tanpa ada rasa dongkol dalam hati apabila keadaan atau sesuatu tidak sesuai yang kita harapkan. Misalkan, udah kerja siang-malam bikin laporan pekerjaan untuk di ajukan ke atasan, setalah di ajukan ke atasan malah hasil kerjaan kita dibilang tidak beres. Secara logikanya seh siapapun pasti kesel, karena kerjaan yang udah dibikin siang-malam nguras banyak tenaga dan waktu tiba-tiba si bos seenaknya saja bilang klo hasil kerjaan tersebut tidak beres dan disuruh ngulang dr awal..huh ( curhat colongan Mode : ON ...hahaha ).
Pernah suat ketika saya mendapat pengalaman yang berharga dari seorang pedagang kue keliling yang biasa berjualan di daerah sekitar tempat tinggal saya. Beliau biasa berjualan kue keliling di gang2 ato komplek2 pada pagi hari. Habis sholat subuh beliau langsung mejajakan dagangannya keliling komplek dan itu memang udah rutinitas beliau tiap hari. Umur beliau mungkin sekitar 50-55 tahun.
Hari itu saya memanggil beliau untuk membeli kue daganganya buat sarapan pagi. Kue yang beliau jual adalah kue-kue khas Banjar seperti, kue untuk ( bahasa banjarnya wadai untuk ), pisang goreng, pais pisang ( kue yang dibungkus daun pisang ), dll. Sambil memilih kue yang ingin saya beli saya berbincang-bincang dengan beliau. Sebenarnya perbincangan itu adalah hanya basa-basi saja dan ga direncanakan sebelumnya tetapi dari perbincangan dengan beliau itu saya mendapat ilmu yang begitu berharga.
Saya menanyakan kepada beliau apakah dagangannya ini selalu habis tiap harinya. Beliau menjawab tidak. Kemudian saya bertanya lagi bagaimana dengan kue yang tidak habis terjual. Apakah dibuang atau dijual lagi besok harinya.Lalu beliau menjawab " Kue-kue ini saya kasihkan sama orang minta-minta ( pengemis ). Daripada mubazir sekalian itu jadi sedekah saya karena saya ga bisa sedekah uang karena saya juga perlu buat beli beras. Segala rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan jadi kita sebagai manusia ya hanya bisa mengikuti apa yang sudah di atur oleh Tuhan. Apabila Tuhan hanya berkehendak rezeki saya  hanya dapat segini atau hanya cukup segini, ya saya cukup bersyukur karena masih untung dagangan saya ini laku".

Subahanallah, dari seorang wanita paruh baya yang hanya tukang jualan kue keliling ini bisa keluar kata-kata yang sangat syarat makna. Sungguh saya tersentak dengan perkataan beliau seperti itu. Mungkin kalo seorang ustadz atau kiai yang mengucapkan seperti itu sering saya dengar, tetapi perkataan dari wanita paruh baya itu memang sangat meresap sampai ke hati sehingga tanpa sadar saya terdiam dan meresapi makna dari perkataan beliau tersebut. Sungguh begitu lapangnya beliau menerima apa yang sudah didapatnya dan masih sempatnya bersedekah sementara beliau sendiri pun terhimpit masalah ekonomi. Tetapi rasa ikhlas beliau dan mempasrahkannya kepada Allah Swt membuat beliau menikmati hidupnya sehingga semuanya begitu mudah buat dijalani. Sedangkan disana masih banyak orang-orang yang diberi lebih dari cukup masih saja mengeluh dan merasa apa yang telah dimiliki belum cukup dan melupakan nikmatnya syukur ( mungkin termasuk saya ).

Ternyata di pagi hari itu yang saya dapat bukan hanya kue yang enak buat sarapan. Pagi itu saya juga mendapat sarapan Ruhani yang begitu besar nilainya walau hanya dari seorang penjual kue keliling. Yang jelas ilmu itu bukan dari siapa yang menyampaikannya tetapi dari apa yang disampaikan. Apabila itu baik maka gunakanlah walau itu hanya dari seorang penjual kue keliling.

Sampai detik ini saya belum menemukan hakikat ilmu ikhlas secara seutuhnya walaupun dari segala macam buku2 atau teori2 yang mangatakan ikhlas itu ini, ikhlas itu begini. Apapun menurut orang tentang Ikhlas satu hal yang saya coba belajar dan akan terus coba belajar adalah berusaha untuk tidak mengeluh dulu baru mempelajari kehakikatan ilmu ikhlas yang sebenarnya.

0 komentar:

Posting Komentar

walkie talkie

walkie talkie
walkie talkie